Kamis, 30 April 2009

Myrna Ratna

Muallaf : Muallaf di Negeri China

Lin Junxi beserta istri dan putrinya pagi itu bergegas dari stasiun kereta bawah tanah Gongzhufen menuju halte bus dengan menenteng sebuah kado besar. Perjalanan pada hari Sabtu (10/3) itu penting bagi keluarga Lin. Untuk pertama kalinya mereka akan berkenalan dengan keluarga besar Wu Yanxia.

Bus umum bergerak lambat menuju Distrik Da Xing. Sekitar satu jam kemudian, alat transportasi utama bagi warga yang berada di pinggiran Beijing itu berhenti di area Xi Hong Men. Warga setempat sering menyebut area ini sebagai "desa". Tetapi, wajah Xi Hong Men tidak seperti desa di Indonesia. Area ini dipadati kompleks perumahan ala rusun dengan jalan-jalan yang lebar dan terawat.

Wu Yanxia, perempuan Muslim dari etnis minoritas Hui, beserta suami, Fang Hui (adik ipar Lin), menyambut di depan pintu. Ini merupakan hari berbahagia bagi pasangan yang baru saja dikaruniai seorang bayi laki-laki dan akan dirayakan dengan tradisi Islam itu. Fang Hui (30) yang telah menjadi mualaf mengenakan kopiah putih, menunggu kedatangan imam masjid setempat, Ibrahim Bai Xingquan.

Ketika imam datang, mereka duduk berkeliling dan membacakan rangkaian surat pendek Al Quran. Seluruh keluarga kemudian berdiri menghadap kiblat, termasuk sang bayi yang digendong neneknya. Imam Ibrahim mengusap-usap kepala sang bayi sambil membacakan doa. Dari rembukan berbagai pihak, nama Islam yang dipilih bagi bayi laki-laki itu adalah Muhammad Nur Daud.

Acara lalu dilanjutkan di rumah makan Muslim terkenal di distrik itu, dengan menu beragam, mulai dari udang goreng sampai bebek panggang yang terkenal. Kedua keluarga menyatu dalam percakapan hangat.

Namun, kisah-kasih Wu Yanxia-Fang Hui tak semulus selamatan bayi mereka. Kisah cinta mereka cukup panjang dan berliku karena masalah agama. Keluarga besar Wu maupun keluarga Fang awalnya tidak berkenan dengan calon menantu mereka. Pasangan ini pantang mundur. Fang kemudian memeluk agama Islam, keluarga pun luruh melihat keteguhannya.

"Saya termasuk yang membujuk keluarga besar agar mereka diizinkan menikah," kata Fang Yan, kakak perempuan Fang Hui. Bukan hanya itu, untuk menunjukkan kesungguhan mereka, gaya hidup pun diubah. "Orangtua kami mulai memasak bahan halal, meski ayah sebetulnya penggemar daging babi," kata Fang Yan. "Wu Yanxia kerap menangis di meja makan, terharu melihat kesungguhan keluarga kami untuk membuat dia merasa diterima," lanjutnya.

Praktik beragama

Pemerintah China secara resmi mengakui semua agama besar di dunia dan kebebasan beragama pun dijamin dalam konstitusi. Namun, pemerintah menerapkan garis tegas antara negara dan agama. Mata pelajaran agama tidak diajarkan di sekolah dan banyak warga China saat ini lebih nyaman untuk menyebut dirinya "tidak beragama". "Lebih terasa patriotis kalau kita tidak mengaku beragama," kata Tien, pemandu wisata yang senang membaca buku tentang taoisme.

Ini perkembangan yang lebih lunak dibandingkan masa Revolusi Kebudayaan (1966-1976) ketika terjadi unifikasi pendidikan nasional di China, saat semua agama dilarang diajarkan, semua fasilitas keagamaan dibuldoser atau fungsinya dialihkan menjadi gedung bagi partai. Yang boleh diajarkan di masyarakat hanyalah marxisme dan maoisme. Menurut islamicpopulation.com, ada 29.000 masjid yang dihancurkan atau dialihfungsikan saat Revolusi Kebudayaan.

Sejak pemerintah mendeklarasikan kebebasan beragama tahun 1978, semua kegiatan warga Muslim diaktifkan kembali. Menurut data resmi, saat ini diperkirakan ada 28 juta penganut agama Islam di China, 34.000 masjid, dan sekitar 400 organisasi Muslim. Setiap tahun sekitar 3.000 warga China diizinkan menjalankan ibadah haji.

Agama Islam diyakini masuk ke China pada masa Khalifah Usman ibnu Affan, yang mengirimkan utusannya ke China sekitar tahun 650, atau 18 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Sebagai rasa hormat terhadap ajaran Islam, Kaisar China Yung Wei memerintahkan pembangunan masjid pertama di China, Masjid Canton, yang masih berdiri sampai hari ini dengan usia sekitar 1.400 tahun.

Islam berkembang pesat di wilayah tengah, Xinjiang, dan juga masuk ke dalam warga etnis mayoritas di China, Han. Warga Han yang pindah memeluk agama Islam menyebut dirinya sebagai etnis Hui dan saat ini dianggap sebagai salah satu etnis minoritas dari 56 etnis yang ada di China. Dari etnis inilah Wu Yanxia, istri Fang Hui, berasal.

Fang Hui mengaku hidupnya berubah signifikan setelah ia memeluk agama Islam. "Saya merasakan persaudaraan antarwarga Muslim yang kuat, saya memiliki lebih banyak teman, dan keluarga saya pun menerima kami dengan tangan terbuka," kata Fang sambil menambahkan bahwa orangtuanya sangat menghargai agama Islam. "Ibu saya ikhlas saya memeluk Islam karena menurut dia inilah jalan hidup saya," lanjutnya.

Fang mengaku tidak sulit mengubah gaya hidupnya karena selama ini keluarganya sudah mempraktikkan hal yang sama dalam keseharian. Misalnya, ibunya yang penganut Buddhis sejak lama vegetarian dan tidak makan daging. Ayahnya, tidak lagi makan daging babi. "Makanan dan minuman di rumah keluarga sekarang halal," ujarnya.

Adakah ia mengalami kesulitan untuk mempraktikkan ritual agamanya di tengah masyarakat? "Sama sekali tidak," kata Fang Hui. "Agama adalah masalah pribadi dan negara menjamin itu," ucap Fang yang dengan wajah gembira menunjukkan sertifikat kelahiran putranya. Di situ juga terselip surat dari imam yang ditulis dengan huruf Arab dan menyatakan bayinya sebagai Muslim.

Waktu dzuhur tiba. Imam Ibrahim menutup santap siang. Ia bersama rombongan beranjak pergi menunaikan shalat di masjid Xi Hong Men. Fang, Wu, dan keluarga besar dari kedua pihak mengantarkan para tamu sampai ke pekarangan. Keluarga Lin Junxi berpelukan hangat dengan kerabat barunya sebelum bergegas menuju stasiun bus terdekat, diiringi lambaian tangan.

sumber : Kompas

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sweet Tomatoes Printable Coupons